Info Terkini
Selamat Datang di Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari

1 Dari 5 Balita Indonesia Tumbuh Kerdil, Kecerdasan Bisa Terganggu

(Foto: thinkstock)

Sepertiga anak di bawah 5 tahun di Indonesia terkena stunting atau gangguan pada masa pertumbuhan. Hal ini tak hanya berdampak dari kondisi fisik seperti tubuh pendek saja, tapi juga kemampuan kognitif seseorang.

Hal ini yang diungkap oleh Prof Dr Bambang P.S Brojonegoro, Menteri PPN/Kepala Bappenas, di sela acara Stunting Summit oleh Kementerian PPN/Bappenas dengan tema ‘Bersama Cegah Stunting’, Rabu (28/3/2018). Menurutnya, akibat dari stunting bisa lebih fatal dari itu.

“Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita, terutama dari 1.000 hari pertama kelahiran. Kalau kita lihat, stunting lebih ke isu anak di bawah 2 tahun, tapi ini tidak simpel karena dampak kekurangan gizi bukan dalam artian gangguan pertumbuhan fisik yang fatal baik bagi kehidupan manusianya sendiri atau ekonomi saja, tapi stunting akan menghambat kecerdasan,” katanya.Selain itu, stunting atau anak kerdil juga bisa berdampak pada perkembangan penyakit dikemudian hari. Paling besar, berdampak pada meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, penyakit jantung, atau stroke.

“Untuk individu, ini menimbulkan penyakit, dan ujungnya menurunkan produktivitas. Di sini perekonomian daerah dan nasional akan berdampak,” ujar Prof Bambang.

Akan tetapi, Prof Bambang kembali mengingatkan bahwa stunting bukan hanya masalah tambahan gizi saja. Pola hidup masyarakat lah serta integrasi dengan berbagai kementerian (kemenkes, kemenko, dll) yang menentukan apakah isu anak kerdil ini bisa ditumpaskan atau tidak.

“Kadang kita berpikir stunting selesai dari tambahan gizi saja, tapi kalau keluarga sudah cukup makanan bergizinya tapi tidak ada mck atau air bersih memadai risiko terkena stuntingnya masih tinggi,” tandasnya.

sumber: https://health.detik.com/berita-detikhealth/3941250/1-dari-5-balita-indonesia-tumbuh-kerdil-kecerdasan-bisa-terganggu