Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nila Djuwita F Moeloek, mengapresiasi ide dan inovasi yang melibatkan perguruan tinggi dalam mengeliminasi kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Kendari. Hal tersebut disampaikan usai melaunching gerakan 10.000 lavitrap dan ovitrap di Politeknik Kesehatan Kemenkes Kendari pada Jumat (29/3/2019).

“Ide dan inovasi lavitrap dan ovitrap dikerjakan mahasiswa ini luar biasa, ini yang saya harapkan betul. Kami berharap hal ini jadi percontohan, tidak dilingkungan mahasiswa tapi di masyarakat,” ungkapnya

Dia menyadari untuk menurunkan kasus DBD perlu kesadaran dan gerakan masyarakat itu sendiri. Hal tersebut betul-betul diharapkan oleh pihak Kemenkes. “Tidak mungkin kita dari kementerian bisa melakukan semua ini,” ujarnya.

Walikota Kendari, Zulkarnain, menuturkan pihaknya mendukung gerakan 10.000 lavitrap dan ovitrap itu, karena DBD di Kota Kendari sudah mengkhawatirkan. Alasannya karena kasus DBD yang terjadi di Kota Kendari sudah mencapai 358 kasus.

“Kami berharap gerakan ini dapat mematikan siklus mata rantai pertumbuhan nyamuk, melalui penerapan lavitrap dan ovitrap. Program ini akan kita secara reguler dan masif sehingga memiliki efek besar dalam menurunkan kasus DBD,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, untuk menerapkan hal tersebut pihaknya akan melibatkan semua lapisan masyarakat pada sebelas kecamatan. Mulai dari lingkungan kelurahan, sekolah dan dinas kesehatan melalui semua puskesmas yang ada. “Kami akan mendukung sosialisasi penerapan program ini dimasyarakat,” katanya.

Kasi Pengendalian Risiko Lingkungan KKP Kendari, Asrun Salam, menyampaikan ada empat perguruan tinggi yang terlibat, yakni Universitas Halu Oleo (UHO) untuk Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kesehatan Masyarakat akan mengawasi empat kecamatan. Stikes dan AKL Mandala Waluya mengawasi tiga kecamatan.

“Sementara Poltekes Kemenkes Kendari dan Stikes Karya Kesehatan Kendari masing-masing mengawasi dua kecamatan,” katanya.

Direktur Poltekes Kemenkes Kendari, Askrening, mengungkapkan pihaknya sangat mendukung pelaksanaan program tersebut. Bahkan, kampus kesehatan negeri tersebut sudah memasok 1000 lavitrap dan ovitrap yang digunakan saat launching.

“Kami adalah perguruan tinggi yang pertama mendukung dalam bentuk aksi nyata,” tutupnya.


(Unit Humas dan Kerja Sama)